Sabtu, 30 November 2013

resensi novel laskar pelangi




 Judul                        :  Laskar Pelangi
Penulis                   : Andrea Hirata
Penerbit                :  Bentang
Tahun Terbit        :  Cetakan III, Juli 2007
Tebal halaman    : 533 halaman
Harga                     : Rp 69.000
Sinopsis : Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Pada bagian-bagian akhir cerita, anggota Laskar Pelangi bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan. Keterbatasan yang ada tidak membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.

Cerita terjadi di desa Gantung, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.

Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.

Mereka, Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini.

Menurut saya novel ini sangat bermanfaat bagi para remaja, khususnya siswa – siswi, karena pada cerita tersebut dikisahkan perjuangan yang begitu berat yang dialami oleh tokoh – tokoh laskar pelangi untuk bersekolah dan menuntut ilmu agar menjadi orang besar nantinya.
Kelebihan             : Berisikan motivasi bagi para pembacanya
  Isinya begitu menarik dan mengesankan
  Banyak amanat yang dapat diambil dari kisah novel ini
Kekurangan         : Banyak beberapa kalimat atau halaman yang tidak perlu ada karena tidak berpengaruh besar terhadap cerita
Penilaian               : menurut saya, novel ini patut di acungi jempol karean berhasil membius para pembaca di seluruh indonesia. Tentu saja dengan membawa dampak positif terhadap semangat belajar dan mengajar para guru dan siswa di seluruh tanah air.
 





Rabu, 16 Oktober 2013

DIENG



Saya akan menceritakan perjalanan saya ke daerah dieng, wonosobo. Saya bersama keluarga saya berangkat sabtu pagi, pukul  05:30 pagi dari jakarta.ngisi bensin dulu,langsung bergegas menuju cipularang. Jalur yang direncanakan : Jakarta-Cipularang-Ciamis-Purwokerto-Wonosobo.
Berhubung masih pagi jalanan tol lancar banget. Kecepatan di tol cipularang bisa mencapai 120 km/jam. Cukuplah untuk sebuah perjalanan keluarga.
Sebagai supir, saya merasa sangat sirik sama kakak saya yang bernama putri. Ia bisa tidur selonjor dibangku belakang dan kalau ia bangun ia main handphone.
Perjalanan lumayan lancar 6 jam kami bersama keluarga sudah sampai di purwokerto.kami mampir sebentar di sukaraja-purwokerto jam 10:30, buat makan sroto sukaraja yg sangat mak nyussss.. sekali isi bensin di banjarnegara. Sampailah kami diwonosobo pukul 13:00 siang. Cek in di hotel kresna. Bagus banget interior hotelnya., so classic. Furniturenya bagus-bagus. Tapi ratenya agak mahal untuk ukuran didaerah wonosobo ,kolam renangnya dingin banget.
Kami dapat kamar yang cukup luar menghadap ke jalan raya,jadi kalau pagi hari kami bisa melihat aktifitas masyarakat yang mulai pada berangkat kerja/sekolah

dieng-hotel-krisna-wonosobo-2.jpg
Ruang makan hotel yang clasik....
Besok paginya, barulah kami meluncur ke Dieng, tujuan sebenernya dari perjalanan kali ini. Wuih,bener-bener deh... jalanannya asik naik turun kelak-kelok,tapi pemandangannya itu lho yang wow....
Mobil kami bisa sampai diatas awan,sampai-sampai mama dan papa berkali-kali ingetin “liatin jalan,jangan liat kanan kiri”
Dari wonosobo menuju ke dieng jarang yang harus ditempuh sekitar 25km, dicapai dengan waktu sekitar 45menit-1jam tidak termasuk mampir-mampir. Jalannya cukup curam naik turun.jadi kalau bisa jangan bawa mobil yang tidak fit,ban gundul atau napasnya ngepas.
pertama-tama kami berhenti sejenak dimenara pandang buat menikmati view yang oke banget,mungkin kalau kami sampai sana lebih pagi lagi sebelum jam 6 bisa dapat pemandangan sunrise yang lebih dahsyat.
dieng-03.jpg
Selesai di menara pandang,lanjut naik ke kompleks diengnya.disitu ada kawah,ada candi,dan ada telaga warna. Namanya juga kawah ya pasti bau belerang lah ya....kami ke kawah yang bernama kawah sikidang yang paling besar di dieng,di kawah sikidang ini agak ramai,dan untuk masuknya bayar.kawah sikidang ini asapnya banyak banget,jadi kalau mau liat kawahnya musti tunggu angin agak reda atau pake masker.setelah puas melihat kawah disitu bisa makan kentang goreng fresh.. lumayan enak sambil dingin-dingin udara dieng...

IMG_20130901_102242.jpg
Kawah sikidang......
IMG_20130901_103022_1.jpg
Narsis bersama mama dikawah sikidang...
Dari kawah sikidang kami bergegas ke telaga warna yang menurut saya ini telaga cukup seram karna warnanya hijau muda dan tidak ada kehidupan didalamnya.kesannya didalamnya itu ada sesuatu yang sangat misterius. Ditelaga warna juga ada jalan setapak yang bisa ditelusuri sambil menikmati pemandangan.
Pulangnya dari dieng kami mencoba makanan khas wonosobo yang bernama mie ongklok.rasanya sangat unik.
Selesailah sudah cerita perjalanan saya bersama keluarga ke dieng yang sudah diidamkan dari lama.semoga perjanan ke dieng ini bukanlah pertualangan yang terakhir..