Selasa, 06 Januari 2015

Konsep Manajemen Laba



Konsep dan Pengertian Manajemen Laba Serta Jenis Manajemen Laba


Manajemen laba didefinisikan sebagai usaha manajer untuk melakukan manipulasi laporan keuangan dengan sengaja dalam batasan yang dibolehkan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang bertujuan untuk memberikan informasi yang menyesatkan kepada para pengguna laporan keuangan untuk kepentingan para manajer (Meutia, 2004). Menurut Sulistyanto (2008) dalam Nuraini (2012), manajemen laba dilakukan dengan mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab pada komponen akrual dapat dilakukan permainan angka melalui metode akuntansi yang digunakan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan pencatatan dan penyusunan laporan keuangan. Komponan akrual merupakan komponen yang tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga mempermainkan besar kecilnya komponen akrual tidak harus disertai dengan kas yang diterima atau dikeluarkan perusahaan (Sulistyanto, 2008 dalam Nuraini, 2012). Sugiri (1998) dalam Arif (2012) mendefinisikan manajemen laba sebagai perilaku manajer yang bermain dalam komponen discretionary accruals dalam menentukan besar labanya. Walaupun tidak menyalahi prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum namun ini dapat mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat pada laporan keuangan eksternal dan menghalangi kompetensi aliran modal di pasar modal (Scott et al., 2001 dalam Meutia, 2004). Manajemen laba dalam lingkup yang lebih luas dapat didefiniskan sebagai tindakan manajer dalam meningkatkan (menurunkan) laba saat ini atas suatu usaha dan manajer bertanggung jawab tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut (Sugiri, 1998 dalam Arif, 2012). Menurut Scott (2003) terdapat dua cara untuk mamahami manajemen laba. Pertama, sebagai perilaku oportunistik manajemen untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kompensasi, kontrak utang dan biaya politik. Kedua, memandang manajemen laba dari perspektif kontrak efisien, yaitu manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka sendiri dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan semua pihak yang terlibat dalam kontrak. Manajemen laba memiliki pola-pola tertentu di dalam prakteknya. Menurut Scott (2003) manajemen laba dilakukan dengan pola sebagai berikut :

1. Taking a bath
Pola manajemen laba yang melaporkan laba pada periode berjalan dengan nilai yang sangat rendah atau sangat tinggi.
2. Income minimization
Pola manajemen ini seperti taking a bath tapi tidak se-ekstrim pola taking a bath. Menjadikan laba di periode berjalan lebih rendah dari pada laba sesungguhnya.
3. Income maximization
Pola manajemen laba ini berkebalikan dengan income minimization. Melaporkan laba lebih tinggi dari pada laba sesungguhnya.
4. Income smoothing
Pola manajemen laba yang paling menarik yaitu dengan cara melaporkan tingkatan laba yang cenderung berfluktualisasi yang normal pada periode-periode tertentu. Tindakan para manajer perusahaan yang melakukan pemanipulasian laporan keuangan dengan menaikkan (menurunkan) laba perusahaan dinilai merugikan para pengguna laporan keuangan. Praktik manajemen laba dapat membuat para investor mengambil keputusan investasi yang salah. Manajer perusahaan memiliki motivasi-motivasi tertentu dalam memanipulasi data keuangan perusahaan. Scott (2003) menemukan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba, yaitu:
1. Bonus purposes
Manajer akan melakukan tindakan oportunistik dengan memaksimalkan laba saat ini untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi.
2. Political motivation
Banyak perusahaan memiliki politik yang terlihat. Terutama untuk perusahaan yang menaungi hajat hidup banyak orang seperti perusahaan minyak, gas, dll. Beberapa perusahaan melakukan earnings management untuk mengurangi visibilitasnya.
3. Taxation motivation
Pajak pendapatan mungkin motivasi yang paling nyata dari manajemen laba. Otoritas perpajakan cenderung memaksakan peraturan akuntansi mereka dalam menghitung pajak pendapatan, mengurangi ruang lingkup perusahaan untuk melakukan manuver.
4. Perubahan CEO
Beberapa dari motivasi manajemen laba ada pada saat adanya perubahan CEO. Hipotesis perencanaan bonus memprediksikan bahwa pengunduran diri CEO akan beberapa terlibat dalam strategi maksimalisasi laba untuk meningkatkan bonus mereka.
5. IPO
Perusahaan yang akan melakukan IPO belum memiliki nilai pasar yang telah terbangun. Dan memungkinkan manajer dari perusahaan going public akan melakukan manajemen laba untuk menaikkan harga saham mereka.
6. Informasi kepada investor

Manajemen tipikalnya akan memberikan informasi yang terbaik tentang prospek laba masa depan kepada investor. Dengan memberikan memberikan estimasi yang baik pada kekuatan laba maka dapat meningkatkan nilai pasar saham. 

kode etik akuntan menurut IAI



KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

Etika profesional dikeluarkan oleh organisasi profesi untuk mengatur perilaku anggotanya dalam menjalankan praktik profesinya bagi masyarakat. Dalam kongresnya tahun 1973, IAI untuk pertama kalinya menetapkan Kode Etik bagi profesi Akuntan di Indonesia. Pembahasan mengenai kode etik IAI ditetapkan dalam Kongres VIII tahun 1998. Sejak kongres yang dilakukan tahun 1998, IAI menetapkan delapan prinsip etika yang  berlaku bagi seluruh anggota IAI dan seluruh kompartemennya. Setiap kompartemen menyajikan 8 (delapan) Prinsip Etika ke dalam Aturan Etika yang berlaku secara khusus bagi anggota IAI. Setiap anggota IAI, khususnya untuk Kompartemen Akuntansi Sektor Publik harus mematuhi delapan Prinsip Etika dalam Kode Etika IAI beserta Aturan Etikanya. Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia bersifat sukarela. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga disiplin di atas dan melebihi yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan. Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik IAI menyatakan pengakuan profesi akan tanggung jawabnya kepada publik, pemakai jasa akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar  perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi. Berikut adalah delapan Prinsip Etika yang telah ditentukan ketetapannya :

 1.Tanggung Jawab Profesi
 Dalam prinsip tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota  berkewajiban menggunakan pertimbangan moral dan profesional setiap melakukan kegiatannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota memiliki tanggung  jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka.

2.Kepentingan Publik 
 Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka  pelayanan kepada publik, mengormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan.
 
3.Integritas
Integritas adalah suatu satu kesatuan yang mendasari munculnya pengakuan  profesional. Integritas merupakan kualitas yang mendasari kepercayaan publik dan merupakan standar bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya. Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus menjaga tingkat integritasnya dengan terus memaksimalkan kinerjanya serta mematuhi apa yang telah menjadi tanggung jawabnya.

4.Objektivitas
Objektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota berdasarkan apa yang telah pemberi nilai dapatkan. Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur, secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain






5.Kompetensi dan Kehati- hatian Profesional
 Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota tidak diperkenankan menggambarkan pengalaman kehandalan kompetensi atau  pengalaman yang belum anggota kuasai atau belum anggota alami. Kompetensi  profesional dapat dibagi menjadi 2 fase yang terpisah:

A. Pencapaian Kompetensi Profesional.
Pencapaian ini pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subjek- subjek yang relevan. Hal ini menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota.

B. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen, pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti  perkembangan profesi akuntansi, serta anggotanya harus menerapkan suatu  program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas  pelaksanaan jasa profesional yang konsisten. Sedangkan kehati- hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggung jawab profesinya dengan kompetensi dan ketekunan.

 6.Kerahasiaan
Dalam kegiatan umum auditor merupakan memeriksa beberapa yang seharusnya tidak boleh orang banyak tahu, namun demi keprofesionalitasannya,
 
 para auditor wajib menjaga kerahasiaan para klien yang diauditnya. Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selam melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan. Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staff di bawah pengawasannya dan orang- orang yang diminta nasihat dan bantuannya menghormati prinsip kerahasiaan.

7.Perilaku Profesional
 Kewajiban untuk menghindari perbuatan atau tingkah laku yang dapat mendiskreditkan atau mengurangi tingkat profesi harus dipenuhi oleh anggota sebgai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staff, pemberi kerja dan masyarakat umum.

 8.Standar Teknis
 Setiap anggota harus melaksanakan profesionalitasnya sesuai dengan standar teknis dan standar professional yang ditetapkan secara relevan. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh IAI, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan  perundang- undangan yang relevan. Aturan etika merupakan penjabaran lebih lanjut dari prinsip-prinsip etika dan ditetapkan untuk masing-masing kompartemen. Untuk akuntan sektor publik, aturan etika ditetapkan oleh IAI Kompartemen Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP). Sampai saat ini, aturan etika ini masih dalam bentuk
exposure draft, yang penyusunannya mengacu pada Standard of Professional Practice on Ethics yang diterbitkan oleh the International  Federation of Accountants (IFAC).
Berdasarkan aturan etika ini, seorang profesional akuntan sektor publik harus memiliki karakteristik yang mencakup:


 1.Penguasaan keahlian intelektual yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan.
 2.Kesediaan melakukan tugas untuk masyarakat secara luas di tempat instansi kerja maupun untuk auditan
3.Berpandangan obyekti
4.Penyediaan layanan dengan standar pelaksanaan tugas dan kinerja yang tinggi. Penerapan aturan etika ini dilakukan untuk mendukung tercapainya tujuan profesi akuntan yaitu:

Jumat, 18 April 2014

tugas softskill bulan ke-2


Exercise 33: Because/Because Of

1. Because of
2. Because of
3. Because
4. Because
5. Because of
6. Because
7. Because of
8. Because
9. Because
10. Because of 

Exercise 34: So/Such

1. So
2. Such
3. So
4. Such
5. So
6. So
7. Such
8. So
9. Such
10. Such
11. So
12. So
13. Such
14. So
15. So


Coordinating conjunctions



(It may help you remember these conjunctions by recalling that they all have fewer than four letters. Also, remember the acronym FANBOYS: For-And-Nor-But-Or-Yet-So. Be careful of the words then and now; neither is a coordinating conjunction, so what we say about coordinating conjunctions' roles in a sentence and punctuation does not apply to those two words.)
When a coordinating conjunction connects two independent clauses, it is often (but not always) accompanied by a comma:

  • Ulysses wants to play for UConn, but he has had trouble meeting the academic requirements.
When the two independent clauses connected by a coordinating conjunction are nicely balanced or brief, many writers will omit the comma:
  • Ulysses has a great jump shot but he isn't quick on his feet.
The comma is always correct when used to separate two independent clauses connected by a coordinating conjunction. See Punctuation Between Two Independent Clauses for further help.
A comma is also correct when and is used to attach the last item of a serial list, although many writers (especially in newspapers) will omit that final comma:
  • Ulysses spent his summer studying basic math, writing, and reading comprehension.
When a coordinating conjunction is used to connect all the elements in a series, a comma is not used:
  • Presbyterians and Methodists and Baptists are the prevalent Protestant congregations in Oklahoma.
A comma is also used with but when expressing a contrast:
  • This is a useful rule, but difficult to remember.
In most of their other roles as joiners (other than joining independent clauses, that is), coordinating conjunctions can join two sentence elements without the help of a comma.
  • Hemingway and Fitzgerald are among the American expatriates of the between-the-wars era.
  • Hemingway was renowned for his clear style and his insights into American notions of male identity.
  • It is hard to say whether Hemingway or Fitzgerald is the more interesting cultural icon of his day.
  • Although Hemingway is sometimes disparaged for his unpleasant portrayal of women and for his glorification of machismo, we nonetheless find some sympathetic, even heroic, female figures in his novels and short stories.

Beginning a Sentence with And or But

Among the coordinating conjunctions, the most common, of course, are and, but, and or. It might be helpful to explore the uses of these three little words. The examples below by no means exhaust the possible meanings of these conjunctions.
AND
  1. To suggest that one idea is chronologically sequential to another: "Tashonda sent in her applications and waited by the phone for a response."
  2. To suggest that one idea is the result of another: "Willie heard the weather report and promptly boarded up his house."
  3. To suggest that one idea is in contrast to another (frequently replaced by but in this usage): "Juanita is brilliant and Shalimar has a pleasant personality.
  4. To suggest an element of surprise (sometimes replaced by yet in this usage): "Hartford is a rich city and suffers from many symptoms of urban blight."
  5. To suggest a kind of "comment" on the first clause: "Charlie became addicted to gambling — and that surprised no one who knew him."
  6. To suggest that one clause is dependent upon another, conditionally (usually the first clause is an imperative): "Use your credit cards frequently and you'll soon find yourself deep in debt."

BUT
  1. To suggest a contrast that is unexpected in light of the first clause: "Joey lost a fortune in the stock market, but he still seems able to live quite comfortably."
  2. To suggest in an affirmative sense what the first part of the sentence implied in a negative way (sometimes replaced by on the contrary): "The club never invested foolishly, but used the services of a sage investment counselor."
  3. To connect two ideas with the meaning of "with the exception of" (and then the second word takes over as subject): "Everybody but Goldenbreath is trying out for the team."
OR
  1. To suggest that only one possibility can be realized, excluding one or the other: "You can study hard for this exam or you can fail."
  2. To suggest the inclusive combination of alternatives: "We can broil chicken on the grill tonight, or we can just eat leftovers.
  3. To suggest a refinement of the first clause: "Smith College is the premier all-women's college in the country, or so it seems to most Smith College alumnae."
  4. To suggest a restatement or "correction" of the first part of the sentence: "There are no rattlesnakes in this canyon, or so our guide tells us."
  5. To suggest a negative condition: "The New Hampshire state motto is the rather grim "Live free or die."
The Others . . .
The conjunction NOR is not extinct, but it is not used nearly as often as the other conjunctions, so it might feel a bit odd when nor does come up in conversation or writing. Its most common use is as the little brother in the correlative pair, neither-nor (see) below:
  • He is neither sane nor brilliant.
  • That is neither what I said nor what I meant.
>It can be used with other negative expressions:
  • That is not what I meant to say, nor should you interpret my statement as an admission of guilt.
It is possible to use nor without a preceding negative element, but it is unusual and, to an extent, rather stuffy:
  • George's handshake is as good as any written contract, nor has he ever proven untrustworthy.
The word YET functions sometimes as an adverb and has several meanings: in addition ("yet another cause of trouble" or "a simple yet noble woman"), even ("yet more expensive"), still ("he is yet a novice"), eventually ("they may yet win"), and so soon as now ("he's not here yet"). It also functions as a coordinating conjunction meaning something like "nevertheless" or "but." The word yet seems to carry an element of distinctiveness that but can seldom register.
  • John plays basketball well, yet his favorite sport is badminton.
  • The visitors complained loudly about the heat, yet they continued to play golf every day.
In sentences such as the second one, above, the pronoun subject of the second clause ("they," in this case) is often left out. When that happens, the comma preceding the conjunction might also disappear: "The visitors complained loudly yet continued to play golf every day."
Yet is sometimes combined with other conjunctions, but or and. It would not be unusual to see and yet in sentences like the ones above. This usage is acceptable.
The word FOR is most often used as a preposition, of course, but it does serve, on rare occasions, as a coordinating conjunction. Some people regard the conjunction for as rather highfalutin and literary, and it does tend to add a bit of weightiness to the text. Beginning a sentence with the conjunction "for" is probably not a good idea, except when you're singing "For he's a jolly good fellow. "For" has serious sequential implications and in its use the order of thoughts is more important than it is, say, with because or since. Its function is to introduce the reason for the preceding clause:
  • John thought he had a good chance to get the job, for his father was on the company's board of trustees.
  • Most of the visitors were happy just sitting around in the shade, for it had been a long, dusty journey on the train.
Be careful of the conjunction SO. Sometimes it can connect two independent clauses along with a comma, but sometimes it can't. For instance, in this sentence,
  • Soto is not the only Olympic athlete in his family, so are his brother, sister, and his Uncle Chet.
where the word so means "as well" or "in addition," most careful writers would use a semicolon between the two independent clauses. In the following sentence, where so is acting like a minor-league "therefore," the conjunction and the comma are adequate to the task:
  • Soto has always been nervous in large gatherings, so it is no surprise that he avoids crowds of his adoring fans.
Sometimes, at the beginning of a sentence, so will act as a kind of summing up device or transition, and when it does, it is often set off from the rest of the sentence with a comma:
  • So, the sheriff peremptorily removed the child from the custody of his parents.

Subordinating Conjunctions

A Subordinating Conjunction (sometimes called a dependent word or subordinator) comes at the beginning of a Subordinate (or Dependent) Clause and establishes the relationship between the dependent clause and the rest of the sentence. It also turns the clause into something that depends on the rest of the sentence for its meaning.
  • He took to the stage as though he had been preparing for this moment all his life.
  • Because he loved acting, he refused to give up his dream of being in the movies.
  • Unless we act now, all is lost.
Notice that some of the subordinating conjunctions in the table below — after, before, since — are also prepositions, but as subordinators they are being used to introduce a clause and to subordinate the following clause to the independent element in the sentence.

Common Subordinating Conjunctions

after
although
as
as if
as long as
as though
because
before
even if
even though
if
if only
in order that
now that
once
rather than
since
so that
than
that
though
till
unless
until
when
whenever
where
whereas
wherever
while